Jumat, 26 Februari 2010

this year

This year….
I’m as class four 2010. yang dikasih nama FARES alias Faire de ves Raves. Bahasa perancis yang punya arti meraih mimpi. Kemarin dikasih dua pilihan. Bahasa perancis atau Spanyol yang berarti pretenito tu sonar yang masih dalam satu makna. At least, kepilih juga faire de ves raves sebagai pilihan. Kedengerannya lebih gimanaaa gituh.
Di bawah naungan orange-nya, kita jadi a’do’ tergede. Masa-masa paling enak deh di pondok. Udah pelajaran nggak sesulit dan sebanyak kelas tiga kemaren. Bikin hidup lebih hidup. Kalau dirasain ituh, kayak nano-nano yang punya banyak rasa. Dan kalau diwarnain, kayak pelangi yang punya banyak warna. Ittihad alias persatuan yang bener-bener terjalin. Kuat bangetz!
Banyak banget kejadian dan masalah yang datang dan pergi seiring berjalannya waktu. Bikin Dee makin tambah dewasa dan berefek pada jerawatan (nyambung g sie?). mulai dari masalah awal-awal Dee rayon yang belum bisa gabung banget ama temen-temen. Tapi sekarang kita akrab banget berempat belas kayak satu keluarga yang punya dasar dan sifat yang berbeda banget. Terus kondisi fisik Dee yang drop gara-gara terlalu memforsirkan diri sama kegiatan. Efeknya jadi kelihatan tambah kurus. Insomnia pagi-malem. Bener, Dee sulit banget buat bisa tidur. hal yang nggak begitu lazim buat anak pondok. Bagus juga sih. Itu bagi Dee sebuah keuntungan. Dibilang maksain diri nggak juga kok. Terus deruan anak marhalah tentang penggunaan torbus setelah menang GSD, mulanya aja sih. Selanjutnya baek-baek aja tuwh. Beberapa aja yang masih bertahan dalam ego.
Pokoknya, tahun ini emang membangkitkan jiwa. Something I will never forget it. Sesuatu yang nggak bakal gue lupa. La tunas abadan. Apalagi yang namanya GSD.

Kamis, 25 Februari 2010

sisipan

-Sisipan-
Terkadang kufikir ku jauh
Dan kuanggap itu adalah sebuah kenyataan yang pilu
Remuk redam hati ini
Ditinggal dan tertinggal
berbeda dalam setiap hal dan jalan

coba tuk dekati…
Tapi jauh dan tak tergapai
Denganku yang seperti ini
Bagaikan mengharap sesuatu yang jelas
Tak pasti

Ingin kuharap suatu hal
Yang membuatku berbeda
Dan dibedakan
Menunggu dengan menatap purnama
Kulihat lagi gemericik air sungai
Terpancar sosokku dalam pantulannya

Andai suatu waktu nanti
Akan ada kesempatan
Di mana kubisa gapai dan raih
Menjadi sesuatu yang bisa
Temani dan terus bersama
Selamanya

(inspired by.Inuyasha. sambil denger lagu every heart-nya BoA yang jadi OST)

definisi pondok

Definisi pondok….
Kalau nggak salah, tahun kemaren Pak Syukri ngomong pas PKA kalau misalnya di sini adalah center of excellence. Yang ternyata itu adalah awal kalam dari Pak Suharto. Biar lebih ngeh lagi, ini adalah kutipan dari ust. Syukri juga tentang pondok pesantren. Yang berarti… lembaga pendidikan dengan system asrama. Kyai sebagai sentral pimpinannya, masjid sebagai titik pusatnya. Dan selalu diulang-ulang bahwa pondok Dee itu lebih mementingkan pendidikan dari pada pengajaran. Itu Gontor.
Pondok yang lain, Dee nggak tahu. Tiap pondok punya cirri khas dan gaya mengajar yang berbeda-beda. Semua punya kelebihan dan kekurangan. No bodies perfect and no pondok perfect. Ada pondok yang berjenis salafi, ada pondok yang mengkhususkan hapal Qur’an, ada pondok yang mendalami Hadits doang, atau juga tafsir doang. Tapi pondok Dee punya pelajaran yang macem-macem kayak rujak atau pun gado-gado. Yang berbahasa pengantar arab dan inggris. Dan yang lebih penting, pondok Dee itu ngasih pendidikan bukan Cuma dalam kelas, tapi juga luar kelas. Apa yang kita lihat, dengar, fikirkan, itu semuanya merupakan pendidikan. Dan satu yang bagi Dee itu penting adalah pembelajaran tentang hidup.
Apalagi di masa-masa kayak gini. Masa-masanya lebih pengen tau sama keadaan sekitar dan jadi lebih ngeh sama banayk hal. Masa pubertasi yang bakal bimbing kita jadi dewasa. Dan itu pasti bakal kebawa gimana nantinya kita pas udah terjun langsung dalam masyarakat.



Puber…
Kalau orang normalnya masa puber itu pas lagi SMP. Dan itu setara kira-kira Dee kelas tiga dan empat. Yang kata temen Dee yang dari SMP, itu adalah masa lucu-lucunya. Kecil nggak, dewasa juga belom. Masa peralihan. Dee juga banyak ngalamin kejadian lucu selama pubertas di pondok.
Kalau diinget lucu juga sih. Tapi Dee tetep salut kok. Banyak yang mengartikan puber di pondok berarti more of mistakes to punishment. Tapi… nggak juga ah. Itu adalah masa di mana kita nggak mau kalah, ada jiwa pesaing yang ketat, juga masa-masanya pengen diperhatiin. Lewat appppaaaa ajah. Kalau di luar pengen diperhatiin sama cowok, kalau di sini pengen diperhatiin sama semuanya. Dan masa di mana kita pengen show our self. Ini lho gue!
Di masa itu, saat-saat kita kudu buat kembangin potensi yang punya. Dan itu adalah masa-masa yang nggak bakal dan nggak boleh terlupakan. Apalagi pas kelas empat. Udah mulai lepas dari jarring-jaring lucunya pubertas, jadi lebih tahu diri sendiri. Apa yang kita mau dan apa yang terbaik buat diri sendiri.
Pas kelas tiga kemaren, buat lebih mengenal diri sendiri, Dee bikin inspiring book dan kalau diary udah mulai dari kelas satu. Kelas empat Dee juga bikin inspiring book minus diary. Yang Dee pikir, rahasia yang kita punya cukup terekam dalam otak aja. kalau kegiatan atau moment yang nggak terlupa Dee abadikan di inspiring book. Warnanya merah-pink dan punya gambar hati yang banyak. Tulisannya ‘love actually’. Pada kaget juga kenapa seorang Dee milih barang model gituan. Nggak lain nggak bukan karena otak ini udah membludak dan nggak ada waktu buat nunggu buku warna biru buat dijadiin inspiring book. Kelas tiga kemaren, Dee udah habis tiga buku. Tahun ini baru satu, tapi bener-bener berarti banget.
Emang beda gaya tulisannya. Inspiring book tahun lalu lebih banyak seputar mimpi-mimpi Dee yang super tinggi, petuah-petuah biar nggak takut buat bermimpi, komentar dari tiap kegiatan yang ada di pondok dan kehidupan. Lebih mirip buku kumpulan artikel dan opini daripada buku inspirasi. Kalau inspiring book tahun ini…. Lebih berinspirasi. Dan kebanyakan tasyji’an ataupun semangat buat bangkit dari tiap masalah yang kadang melanda. Dee inget sebuah kalimat: ‘your greatest motivation should come from yourself’. Jadi, motivasi tertinggi Cuma bisa dari diri sendiri. Yang Dee yakini itu. Percuma aja orang lain kasih motivasi kalau dari diri sendiri nggak ada keinginan buat bangkit.
Dee kira, mungkin potensi Dee yang mau dan perlu dikembangin mumpung umur segini adalah di bidang seni dan tulis-menulis. Akhir-akhir Dee lagi tertarik buat belajar khot atau tulisan indah Arab. Juga pengen lebih memperbaiki bahasa buat nulis. Makanya, di sini juga banyak wadah khusus buat kembangin itu semua. Dee masuk malda dan jadi illustrator yang notabene musti ngurus segala ilustrasi juga bentuk hiasan madding. Tapi, akhir-akhir ini Dee selalu kebagian nulis. Cerita lengkapnya, ntar aja.

definisi santri

Definisi santri

Sebenernya, kalau dipikir-pikir santri itu ya murid. Cuma sekolahnya aja yang lain. santri itu murid yang belajar di pondok. Seorang santri nggak bisa disatu artikan yang notabene hapal qur’an, pinter qiro’ah, ahli hadits, ahli fiqh, atau yang pendiem, dan mungkin juga banyak yang mengartikan bahwa santri itu melulu tentang agama. Jadinya garing.
Menurut kaca mata pribadi Dee yang min empat ini, bahwa kualitas seorang santri itu ada di mana ia sekolah dan dididik atau juga tergantung santri itu sendiri. Nggak bisa dong walau pondok yang sebegitu banyaknya jebolin alumni hebat tapi musti semua harus hebat. Tergantung orangnya. Apa dia kuat dalam nerima pelajaran atau juga punya keinginan kuat untuk bisa.
Kalau Dee sendiri tipikal santri yang ngikut arus dan menempatkan diri sebagaimana Dee nyaman. Jujur, di rumah Dee nggak pernah pakai rok kecuali pas sanlat dan mau balik ke pondok. Dan kalau hubungan sama anak pondok nggak mungkin dong pakai bahasa melulu alias Arab en English. Bikin orang lain jadi asing dengernya. Misalnya lagi nelpon atau ngobrol, misalnya pakai bahasa asing itu, sugesti orang bakal beda-beda. Mayoritas sih (yang keGRan), negative thinking kalau kita lagi ngomongin mereka. At least, jadi nggak enak gimana gituh. Tapi tiap perkataan ada tempatnya sendiri, dan tiap tempat ada perkataannya sendiri.
Balik lagi, di pondok tempat Dee belajar, nggak ada system khusus yang bikin santrinya musti dan harus hafal Qur’an. Terinspirasi dari negeri 5 menara, pas Alif baru-baru masuk PM, ayahnya tanya tentang padatnya aktivitas di PM. Trus, belajar agamanya kapan? Dengan tenang santri kelas itu menjawab bahwa agama langsung dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi oksigen di PM.
Dan di sina juga jadi tempat islahu-n-nafs atau pembenaran diri, juga tazkiyatu-n-nafs atau pensucian diri. Yang aslinya berlumpur jadi bersih kena percikan-percikannya. Walau sampai sekarang Dee nggak ngerasa jadi orang bener, tapi Dee pikir udah lumayan dan ada efek yang nggak bisa dituliskan dengan tinta atau key board, juga diungkapkan dengan kata-kata. Efek misterius yang bikin diri ini jadi beda seiring berjalannya waktu. Dan itu tergantung orangnya juga. Betapa pondok udah banyak banget nyelamatin hari-hari Dee, bahkan tahun-tahun Dee kalau misalnya Dee sekolah di luar.
Jadi, jangan anggap santri dalam satu fact aja yach….

Rabu, 24 Februari 2010

will begin

Hasil gojrokan mama yang dari jogja dan ayah yang dari padang. Tapi kalau ada yang bilang anak pertama itu ngikutin ayahnya, ada benernya juga. Nurun dari ayah sifat keras alias ngotot, selain itu yang lebih penting adalah sastra. dee suka banget sastra apapun bentuknya. Agak aneh juga umur segini dah ngebahas sastra. sampai saat ini sastra yang paling Dee suka adalah buatan Sir Arthur Conan Doyle. Nggak tau? Nyemplung kali ajah! Kalau turunan dari mama apa ya? Mama pinter banget matematika, otak Dee cekak. Mungkin, sifat mama yang tanggep kali y. tapi Dee kalau masalah tanggep-tanggep gituh lihat dulu sikonnya. Palingan Cuma perihal marhalah atau angkatan. Nggak begitu peduli sih gimana hasil percampuran kedua gen itu. But, it’s me. Dhita ayomi yang udah kebentuk kayak gini.
Belum lama Dee pikir, Dee sulit banget ngomong ke ortu perihal segala hal. Ortu nggak tahu gimana proses pubertas Dee. Yaitu jalan buat dewasa. Mungkin juga Dee bikin blog buat wasilah ngomong biar ayah tahu apa yang Dee rasain. Selain itu sih buat memperbaiki tata kata yang kata ayah berantakan. Dee nggak mungkin cerita 100% giman Dee di pondok. Banyak hal yang ortu nggak perlu tahu. Ayah sama mama nggak pernah ngarep Dee harus dapet nilai cakep atau kelas atas. Yang penting Dee betah aja dan nggak mogok Cuma gara-gara sakit.
Forget it! Sekarang deem au bahas segalanya yangDee rasain selama empat tahun di pondok. Mulai dari kegiatan, perasaan, tiap tahunnya gimana, juga segala yang ada di pondok yang Dee tahu mulai dari hal paling penting, penting, biasa, biasa banget, ataupun nggak penting.

mulai lagi

Sebenernya aneh juga seorang anak sanah robi’ah ngebahas tentang hal ini, tapi nggak ada yang ngelarang dan nggak ada salahnya kan dibahas.
Dee masih inget, Dia ngasih some power hingga hati ini tergerak pas sare mendung. Ibu-temen Mama yang punya asli Nella tapi beliau risih dipanggil tante atau budhe, cukup ibu- datang ke rumah buat ngasih kalender. Biasa aja sih ceritanya. Tapi betapa terkejutnya reaksi mama dan ayah. Anak sulungnya yang paling slenge’an dan nggak mau diatur dan punya temen paling setia yaitu para komik, novel, buku, dan tulisan apapun. Jujur, Dee paling sulit yang namanya bergaul. Banyak factor sih, apalagi dengan kondisi ayah yang hobi banget pindah-pindah. Mending dalam satu provinsi, bahkan sampai beda pulau dan otomatis suku yang beda banget.
Ayah sampai pernah ngomong (yang nggak tahu ayah masih inget apa nggak) sebelum berangkat, waktu itu Dee masih berdomilisi di Kalimantan. “Dit, sekarang batas Ayah buat ngerawat kamu. Nanti sisanya kamu bakal dirawat pondok, habis lulus kamu kuliah pasti jauh sama ayah, terus kerja pasti bakal hidup mandiri, apalagi nanti kalau udah nikah. Baik-baik ya, jangan kecewain ayah.”
Mama nggak banyak komen. Asal itu baik buat Dee, why not?
Sebenernya, setiap orang yang nyantri atau memilih belajar ampe berkilo-kilo jauhnya, pasti punya cerita tersendiri kenapa masuk sini. Ada yang emang disuruh ortu, ikut kakak, kemauan sendiri yang punya flash back berlainan. Dan sayangnya, flash back Dee masuk Gontor dengan alasan yang nggak begitu keren. Kalender.
Gontor itu, menurut kaca mata orang luar, udah dipercaya di mana-mana. Bukannya promosi atau apa. Ya buktinya aja dengan kehadiran tamu-tamu pondok ang sering berkunjung. Dan kalau tahu, Gontor selalu berusaha untuk tetap memberikan yang terbaik. Dan kalau ada tamu yang datang, apapun dikerjain. Mulai kita yang sore-sore suruh tandzif alias bersih-bersih, rela maghrib disambung sekalian isya’ padahal lagi masanya imtihan. Tapi, we’ve done. Segalanya terjadi walau nggak sedikit yang ngedumel. Selalu diingetin, fiiha barokah…

Selasa, 23 Februari 2010

holiday

wah, udah liburan lagi nie. dee dah edit many entries. mau ganti sub. about me as santri. as you know, udah banyak buku yang bahas tentang kehidupan nyantrinya. tapi, berhubung waktu dee yang terbatas ini, dee salurin lewat blog.